Myself and Myths






Banyak yang bilang "Perempuan itu harusnya bisa menata diri kalau sudah remaja" kalimat itu nggak cuma gue denger dari satu mulut aja, tapi dari ribuan mulut orang yang rata - rata menstandarisasi kecantikan dengan apa pun yang sering dibicarakan oleh orang lain. Gue pernah mikir kalau orang yang berpikir demikian adalah orang yang kemayu, perempuan banget, feminim, dan ribuan stigma yang menurut gue berlebihan. You know what i mean lahh.. 
Rata - rata orang berbicara demikian, waktu gue baru masuk kelas satu SMP. And, what the f*ck is this? Gue sempat kaget dengan situasi lingkungan gue yang berubah, karena anehnya yang ngomong "Perempuan itu harusnya bisa menata diri kalau sudah remaja" nggak cuma orang - orang yang lebih dulu merasakan masa remaja dari pada gue. 

Ternyata temen - temen sepermainan gue yang dulunya haha hihi bareng, main lumpur bareng, panas - panasan bareng, pun makan gorengan pake saus tomat sampe belepotan bareng aja bisa nyeramahin gue dengan kalimat yang sama. Disaat gue masih doyan sepedaan sampe muka gue gosong, temen gue udah berulang kali naik ojol, karena takut tangannya gosong gara - gara sepedaan. Di saat gue masih sering make kaus oblong dan juga jilbab instan, temen gue udah pake kemeja dan jilbab segiempat yang sumpah bikin ribet banget. Gue pernah berpikiran, kok gue kaya anak cowo banget. Dari hal yang gue renungkan, gue berhasil menemukan sedikit titik temu dari permasalahan gue saat gue ada di SMP.

Satu hal yang masih menjadi pertanyaan gue selama ini; waktu SD gue main sama cowo dan hampir nggak punya temen cewe. Ada sih, temen cewe yang main sama gue, tapi temen cewe gue juga cewe yang sifatnya kaya cowo, ehehee.. Peace! Karena menurut gue, temenan sama cowo akan jauh lebih menyenangkan dari pada temenan sama perempuan. Stigma yang sering gue denger tentang perempuan adalah perempuan itu suka nangis, penakut, dan juga nggak bisa nyimpen rahasia temennya. 

Nah, back to the topic. Sedikit demi sedikit perbedaan gue rasain ketika gue kelas delapan. Gue mulai risih untuk duduk sebelahan sama cowo, ngobrol, main, juga chating. Gue juga udah mulai risih, ketika guru gue masukin anak cowo ke kelompok presentasi gue, kelompok laporan, vg, makalah. Gue kaya ngerasa ada sekat diantara gue sama temen - temen cowo gue. Padahal, rata - rata temen laki - laki yang ada di SMP gue juga yang selama itu jadi temen main gue ketika SD. 

Perbedaan yang paling gue rasain dari diri gue yaitu ketika gue cenderung diem dan nggak show myself enough ke temen - temen gue, kakak tingkat gue, guru - guru gue. Disitulah gue mutusin untuk ikut seleksi pengurus OSIS dengan alasan, mungkin gue bisa kembali aktif kalau gabung dalam suatu oganisasi. Akhirnya gue ikutin seleksi itu dan akhirnya gue keterima jadi pengurus.

Setelah pelantikan, kepengurusan baru itu langsung dicekokin proker yang menuntut banyak rapat. Yang gue inget, setiap minggu bisa dipastikan gue dateng tiga  sampai lima kali rapat. Tapi, di semua rapat yang gue ikutin, nggak satu pun dari seluruh rapat yang bikin gue ngacung untuk show my opinions. Lagi - lagi, gue cenderung diem dan pasif. Pada suatu hari, *siap!* kakak tingkat yang dulu ngeMOS-in gue tiba - tiba ngechat gue dan ngasih nasehat. Awalnya gue pikir, dia nasehatin gue karena dia lihat perbedaan gue ketika MOS dibanding ketika gue jadi pengurus OSIS. Tapi ternyata dia nasehatin gue tentang keberuntungan seorang "gue" yang dipilih jadi pengurus OSIS. Nggak cuma itu, dia juga nasehatin gue; 
Jangan takut untuk berbeda dari yang lain, kamu harusnya bersyukur karena kamu terpilih. Saya tahu kamu yang sekarang, tapi saya juga tahu kamu yang dulu. Kamu boleh takut apabila kamu tidak memiliki perubahan dari buruk menjadi baik, tapi yang saya sarankan, kamu harus bersyukur dengan diri kamu yang sekarang.

Akhirnya gue memantapkan diri untuk menjadi pribadi yang saat itu glorified by me. Gue seakan - akan menemukan diri gue yang sebenarnya. Well, kalau dikaitkan dengan agama nih, cieilahh.. seorang perempuan dan laki - laki memang sebaiknya ada batasannya. Tuhan membenci seorang perempuan yang mengaku dirinya seperti laki - laki, ataupun sebaliknya.

Opening gue muter - muter banget, ye kan??

Jadi myself yang sebenernya pengen gue show ke kalian salah satunya, yaitu gue bukanlah orang yang mudah terbuka dengan laki - laki, tapi gue juga benci dengan perempuan yang menganggap gue nggak pro-man. Gue masih mau ngobrol, bercanda, main, diskusi sama temen laki - laki gue, asalkan mereka juga tahu batas kewajaran mereka dengan perempuan. Gue nggak pengen dikatain sok suci, kemaki, belagu, tapi gue cuma pengen mereka menghargai kodrat gue sebagai perempuan yang harus dijaga dan dihormati.


Perkara "Perempuan itu harusnya bisa menata diri kalau sudah remaja" juga gue glorified. Sayangnya gue baru mengagungkan kalimat itu ketika gue ada di kelas satu SMA. Disitulah gue merasa minder. Gue ngeliat temen - temen gue udah pada pro dalam hal skin care, outfits, and whatever do you think, sedangkan gue baru start for do that habits.


That's myself and myths by me. Gue akan share my experience saat gue ngerasa minder dan pasca minder. Intinya gue nyaman dengan orientasi pikiran gue yang sekarang dan itulah gue.

Komentar